LEARN SEJARAH. Belajar sejarah dan manfaat sejarah adalah membangkitkan semangat kesatuan.

Sejarah Masjid Istiqlal (Lengkap)

Sejarah Masjid IstiqlalSejarah Masjid Istiqlal Masjid Istiqlal (arti harfiah: Masjid Merdeka) ialah masjid nasional negara Republik Indonesia yang berada di bekas Taman Wilhelmina, di Timur Laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), di pusat ibukota Jakarta. Di seberang Timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Imam besarnya ialah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. serta Ketua tubuh Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal kini ialah KH. Muhammad Muzammil Basyuni.







sejarah masjid istiqlal
via.google.com

SEJARAH MASJID ISTIQLAL

Sejarah masjid istiqlal - Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai gejala dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilaksanakan oleh Ir. Soekarno terhadap tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal ialah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan 

Masjid ini mempunyai gaya arsitektur kekinian dengan dinding serta lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai serta satu lantai basis. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi jumlah 96,66 meter menjulang di sudut Selatan selasar masjid. Masjid ini dapat menampung lebih dari 200000. jamaah 

Selain dipakai sebagai kegiatan ibadah umat Islam, masjid ini juga dipakai sebagai kantor beragam organisasi Islam di Indonesia, kegiatan sosial, serta aktivitas umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang populer di Jakarta. keseringan wisatawan yang berkunjung lazimnya wisatawan domestik di samping beberapa wisatawan asing yang beragama Islam. Masyarakat non-Muslim juga bisa berkunjung ke masjid ini sehabis lebih awal memperoleh pembekalan informasi tentang Islam serta Masjid Istiqlal, walaupun area yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas serta sesegera mungkin disertai pemandu 

Pada setiap hari besar Islam layaknya Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Maulid Nabi Muhammad dan Isra serta Mi'raj,. Presiden Republik Indonesia senantiasa mengadakan aktivitas keagamaan di masjid ini yang diberitakan secara langsung melewati televisi nasional (TVRI) serta beberapa televisi swasta.


SEJARAH MASJID ISTIQLAL (Sejarah Nama Masjid Istiqlal)

Masjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia, yaitu masjid yang mewakili umat muslim Indonesia. pasal menyandang tingkat terhormat ini tersebutkan masjid ini sesegera mungkin bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan merupakan juga menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Masjid ini dibangun sebagai ungkapan serta wujud dari rasa syukur bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas dikarenakan berkah serta rahmat Allah SWT yang sudah menganugerahkan enak kemerdekaan, terbebas dari cengkraman penjajah. pasal itulah masjid ini dinamakan "Istiqlal" yang dalam bahasa Arab bermakna "Merdeka".


SEJARAH MASJID ISTIQLAL (Sejarah Tentang Masjid Istiqlal)

Sejarah masjid istiqlal - sehabis perang kemerdekaan Indonesia, mulai berkembang gagasan besar buat mendirikan masjid nasional. Ide pembangunan masjid tercetus sehabis empat tahun proklamasi kemerdekaan. Gagasan pembangunan masjid kenegaraan ini sejalan dengan tradisi bangsa Indonesia yang dari ketika zaman kerajaan purba pernah membangun bangunan monumental keagamaan yang melambangkan kejayaan negara. contohnya terhadap zaman kerajaan Hindu-Buddha bangsa Indonesia sudah berjaya membangun candi Borobudur serta Prambanan. pasal itulah terhadap waktu kemerdekaan Indonesia terbit gagasan membangun masjid agung yang megah serta pantas menyandang predikat sebagai masjid negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.








SEJARAH MASJID ISTIQLAL (Perencanaan Masjid Istiqlal)

Sejarah masjid istiqlal terhadap tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang masa itu menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia serta H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam mengadakan pertemuan dengan sebanyak tokoh Islam di Deca Park, sesuatu gedung pertemuan di jalan Merdeka Utara, tak jauh dari Istana Merdeka. Pertemuan dipimpin oleh KH. Taufiqurrahman, yang membahas rencana pembangunan masjid. Gedung pertemuan yang bersebelahan dengan Istana Merdeka itu, sekarang tinggal sejarah. Deca Park serta sebagian gedung lainnya tergusur saat proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) dimulai.
Masjid tersebut disepakati akan dikasi nama Istiqlal. Secara harfiah, kata Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang berarti: kebebasan, lepas atau kemerdekaan, yang secara istilah menggambarkan rasa syukur kepada Allah atas limpahan rahmat berbentuk kemerdekaan bangsa.
Pada pertemuan di gedung Deca Park tersebut, secara mufakat disepakati H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Dia juga ditunjuk secara mufakat sebagai ketua panitia pembangunan Masjid Istiqlal walaupun dia terlambat hadir pasal baru kembali ke tanah air sehabis bertugas sebagai delegasi Indonesia ke Jepang membicarakan problem pampasan perang saat itu.
Pada tahun 1953, Panita Pembangunan Masjid Istiqlal, menyiarkan rencana pembangunan masjid itu kepada kepala negara. Presiden Soekarno menyambut baik rencana tersebut, bahkan akan menolong sepenuhnya pembangunan Masjid Istiqlal. setelah itu Yayasan Masjid Istiqlal disahkan dihadapan notaris Elisa Pondag terhadap tanggal 7 Desember 1954.

Presiden Soekarno mulai aktif dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal dari ketika dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Juri dalam Sayembara maket Masjid Istiqlal yang dipublikasikan melewati surat kabar serta media lainnya terhadap tanggal 22 Februari 1955. melewati pengumuman tersebut, para arsitek baik perorangan ataupun kelembagaan diundang buat turut dan dalam sayembara itu.
Terjadi perbedaan pendapat tentang rencana lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Ir. H. Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI) berpendapat jikalau lokasi yang paling tepat buat pembangunan Masjid Istiqlal tersebut ialah di Jl. Moh. Husni Thamrin yang sekarang menjadi lokasi Hotel Indonesia. Dengan pertimbangan lokasi tersebut Berposisi di lingkungan masyarakat Muslim serta masa itu belum adanya bangunan di atasnya.
Sementara itu, Ir. Soekarno (Presiden RI saat itu) mengusulkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina, yang di dalamnya terkandung reruntuhan benteng Belanda serta dikelilingi oleh bangunan-bangunan pemerintah serta pusat-pusat perdagangan dan dekat dengan Istana Merdeka. Perihal ini sesuai dengan simbol kekuasaan keraton di Pulau Jawa serta daerah-daerah di Indonesia jikalau masjid sesegera mungkin senantiasa tidak jauh dengan kraton atau dekat dengan alun-alun,dan Taman Medan Merdeka dikata sebagai alun-alun Ibu Kota Jakarta. disamping itu Soekarno juga menghendaki masjid negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta buat melambangkan semangat persaudaraan, persatuan serta toleransi beragama sesuai Pancasila.
Pendapat H. Moh. Hatta tersebut akan lebih hemat pasal tak akan mengeluarkan biaya buat penggusuran bangunan-bangunan yang adanya di atas serta di sekitar lokasi. Namun, sehabis dilaksanakan musyawarah, akhirnya ditetapkan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal di Taman Wilhelmina. buat berikan tempat bagi masjid ini, bekas benteng Belanda yaitu benteng Prins Frederick yang dibangun terhadap tahun 1837 dibongkar.


SEJARAH MASJID ISTIQLAL (Sayembara Rancang Bangun Masjid Istiqlal)


Dewan Juri sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal, terdiri dari para Arsitek serta Ulama terkenal. lapisan Dewan Juri ialah Presiden Soekarno sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Ir. Djoeanda Kartawidjaja, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), H. Aboebakar Atjeh, serta Oemar Husein Amin.

Sayembara terjadi mulai tanggal 22 Februari 1955 sampai dengan 30 Mei 1955. Sambutan masyarakat amat menggembirakan, tergambar dari banyaknya peminat hingga mencapai 30 peserta. Dari hitungan tersebut, terkandung 27 peserta yang menyerahkan sketsa serta maketnya, serta cuma 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba.
Setelah dewan juri menilai serta mengevaluasi, akhirnya ditetapkanlah 5 (lima) peserta sebagai nominator. Lima peserta tersebut adalah:
  1. Pemenang Pertama: Fredrerich Silaban dengan disain bersandi Ketuhanan
  2. Pemenang Kedua: R. Utoyo dengan disain bersandi Istighfar
  3. Pemenang Ketiga: Hans Gronewegen dengan disain bersandi Salam
  4. Pemenang Keempat: 5 orang pembelajar ITB dengan disain bersandi Ilham
  5. Pemenang Kelima: ialah 3 orang pembelajar ITB dengan disain bersandi Khatulistiwa serta NV. Associatie dengan sandi Lima Arab
Pada tanggal 5 Juli 1955, Dewan Juri menetapkan F. Silaban sebagai pemenang pertama. Penetapan tersebut dilaksanakan di Istana Merdeka, dan merupakan juga menganugerahkan sesuatu medali emas 75 gram serta uang Rp. 25000. Pemenang kedua, ketiga, serta keempat diberikan hadiah. serta semua peserta memperoleh sertifikat penghargaan.


Pemancangan tiang pertama dilaksanakan oleh Presiden Ir. Soekarno terhadap tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan umat Islam.

Selanjutnya pelaksanaan pembangunan masjid ini tak berjalan lancar. dari ketika direncanakan terhadap tahun 1950 sampai dengan 1965 tak merasakan banyak kemajuan. Proyek ini tersendat, pasal pada waktu politik yang kurang kondusif. terhadap waktu itu, berlaku demokrasi parlementer, partai-partai politik saling bertikai buat memperjuangkan kepentingannya masing-masing. keadaan ini memuncak terhadap tahun 1965 saat meletus peristiwa G30S/PKI, sehingga pembangunan masjid terhenti setara sekali. sehabis pada waktu politik mereda, terhadap tahun 1966, Menteri Agama KH. Muhammad Dahlan mempelopori kembali pembangunan masjid ini. Kepengurusan dipegang oleh KH. Idham Chalid yang bertindak sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Masjid Istiqlal.

Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai terhadap tanggal 24 Agustus 1961, serta diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto terhadap tanggal 22 Februari 1978,[18] ditandai dengan prasasti yang dipakaikan di daerah tangga pintu As-Salam. Biaya pembangunan didapati terutama dari APBN sebesar Rp. 7000000000,-. (tujuh miliar rupiah) serta US$. 12000000. (dua belas juta dollar AS).


SEJARAH MASJID ISTIQLAL ( Arsitektur Masjid Istiqlal)

Gaya arsitektur masjid istiqlal

Masjid ini bergaya arsitektur Islam kekinian internasional, yaitu menerapkan bentuk-bentuk geometri sederhana layaknya kubus, persegi, serta kubah bola, dalam ukuran raksasa buat memicu aura agung serta monumental. Bahannya pun dipilih yang besifat kokoh, netral, sederhana, serta minimalis, yaitu marmer putih serta baja antikarat (stainless steel). Ragam hias ornamen masjid pun bersifat sederhana namun elegan, yaitu pola geometris berbentuk ornamen logam krawangan (kerangka logam berlubang) berpola lingkaran, kubus, atau persegi. Ornamen-ornamen ini disamping berfungsi sabagai penyekat, jendela, atau lubang udara, juga berfungsi sebagai unsur estetik dari bangunan ini. Krawangan dari baja ini ditempatkan sebagai jendela, lubang angin, atau ornamen koridor masjid. Pagar langkan di tepi balkon tiap lantainya dan pagar tangga pun terbuat dari baja antikarat. Langit-langit masjid serta area dalam kubah pun dilapisi kerangka baja antikarat. Dua belas pilar utama penyangga kubah pun dilapisi lempengan baja antikarat.

Karena bangunan yang begitu besar serta luas, bila memanfaatkan semua permukaan lantai di seluruh area bangunan, masjid ini bisa menampung maksimal sekitar 200000. jamaah, walaupun demikian kapasitas ideal masjid ini ialah sekitar 120000. jamaah. Masjid ini memiliki arsitektur yang bergaya kekinian. Jamaah serta wisatawan yang berkunjung ke masjid ini bisa menatap konstruksi kokoh bangunan masjid yang didominasi oleh batuan marmer terhadap tiang-tiang, lantai, dinding serta tangga dan baja antikarat terhadap tiang utama, kubah, puncak menara, plafon, dinding, pintu krawangan, tempat wudhu, serta pagar keliling halaman.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Istiqlal juga merupakan obyek wisata religi, pusat pendidikan, serta pusat kegiatan syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, jamaah serta wisatawan bisa menatap keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Indonesia, Timur Tengah, serta Eropa. Arsitektur Indonesia nampak terhadap bangunan yang bersifat terbuka dengan memungkinkan sirkulasi udara natural sesuai dengan iklim tropis dan letak masjid yang tidak jauh dengan bangunan pusat pemerintahan. setelah itu terhadap area dalam kubah masjid yang berhiaskan kaligrafi merupakan result adopsi arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga dipicu gaya arsitektur Barat, sebagaimana terlihat dari bentuk tiang serta dinding yang kokoh.

Arsitektur Masjid Istiqlal juga menampilkan pendekatan yang unik pada beragam serapan budaya dalam komposisi yang harmonis. Perpaduan itu tunjukkan kuatnya pemahaman yang menghargai beragam budaya dari masyarakat yang berbeda, yang ditempatkan sebagai potensi buat membangun harmoni serta toleransi antar umat beragama, dalam rangka membina kesatuan serta persatuan bangsa.

Beberapa kalangan menganggap arsitektur Islam kekinian Timur Tengah masjid Istiqlal berbentuk kubah besar serta menara terlampau bersifat Arab serta modern, sehingga terlepas dari hubungan harmoni serta warisan tradisi arsitektur Islam Nusantara tradisional Indonesia. bisa jadi sebagai jawabannya mantan presiden Suharto melewati Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila menyeponsori pembangunan beragam masjid beratap limas status tiga bergaya tradisional masjid Jawa.

Simbolisme masjid istiqlal


Rancangan arsitektur Masjid Istiqlal mengandung angka serta ukuran yang mempunyai makna serta perlambang terdefinisi jelas. terkandung tujuh gerbang buat memasuki ruangan dalam Istiqlal yang masing-masing dinamai didasarkan Al-Asmaul-Husna, nama-nama Allah yang mulia serta terpuji. Angka tujuh melambangkan tujuh lapis langit dalam kosmologi alam semesta Islam, dan tujuh hari dalam seminggu. Tempat wudhu berada di lantai dasar, sedangkan ruangan utama serta pelataran utama berada di lantai satu yang ditinggikan. Bangunan masjid terdiri atas dua bangunan; bangunan utama serta bangunan pendamping yang lebih kecil. Bangunan pendamping berfungsi sebagai tangga dan merupakan juga tempat tambahan buat beribadah. Bangunan utama ini dimahkotai kubah dengan bentang diameter sebesar 45 meter, angka "45" melambangkan tahun 1945, tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemuncak atau mastaka kubah utama dimahkotai ornamen baja antikarat berupa Bulan sabit serta bintang, simbol Islam 

Kubah utama ini ditopang oleh 12 tiang ruang ibadah utama disusun melingkar tepi basis kubah, dikelilingi empat status balkon. Angka "12" yang dilambangkan oleh 12 tiang melambangkan hari kelahiran Nabi Muhammad yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, juga melambangkan 12 bulan dalam penanggalan Islam (juga penanggalan Masehi) dalam satu tahun. Empat status balkon serta satu lantai utama melambangkan angka "5" yang melambangkan lima Rukun Islam dan merupakan juga melambangkan Pancasila, falsafah kebangsaan Indonesia. Tangga berada di keempat sudut ruangan menjangkau seluruh lantai. terhadap bangunan pendamping dimahkotai kubah yang lebih kecil berdiameter 8 meter 

Adanya dua bangunan masjid; yaitu bangunan utama serta bangunan pendamping (berfungsi sebagai tangga, ruang tambahan serta pintu masuk Al Fattah), dan dua kubah yaitu kubah utama serta kubah pendamping, melambangkan angka "2" atau dualisme yang saling berdampingan serta melengkapi; langit serta bumi, kepentingan akhirat serta kepentingan duniawi, bathin serta lahir, dan dua bentuk kaitan serius bagi Muslim yaitu Hablum minallah (hubungan manusia dengan Tuhannya) serta Hablum minannaas (hubungan manusia dengan sesamanya). Perihal ini sesuai dengan sifat agama Islam yang lengkap, memanage baik urusan keagamaan ataupun sosial kemasyarakatan. Islam tak semata-mata bertitik berat terhadap problem ibadah serta akhirat saja tapi juga memperhatikan urusan duniawi; kesejahteraan, keadilan serta kepedulian sosial, ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan, kebudayaan serta kehidupan sehari-hari umat Muslim 

Rancangan interior masjid ini sederhana, minimalis, dengan hiasan minimal berbentuk ornamen geometrik dari bahan baja antikarat. Sifat gaya arsitektur serta ragam hias geometris yang sederhana, bersih serta minimalis ini mengandung makna jikalau dalam kesederhanaan terdapat keindahanPada. dinding utama yang menghadap kiblat terkandung mihrab serta mimbar di tengahnya. terhadap dinding utama terkandung ornamen logam bertuliskan aksara Arab Allah di sebelah kanan serta nama Muhammad di sebelah kiri, di tengahnya terkandung kaligrafi Arab Surah Ta Ha ayat ke-14. seluruh ornamen logam baja antikarat didatangkan dari Jerman. terhadap awalnya direncanakan memakaikan bahan marmer impor dari Italia layaknya Monumen Nasional. Akan tapi buat menghemat biaya serta mendukung industri mamer lokal tersebutkan bahan marmer akhirnya diambil dari Tulungagung di Jawa Timur 

Struktur bangunan utama dikaitkan dengan emper serta koridor yang mengelilingi pelataran terbuka yang luas. Teras besar terbuka ini berukuran seluas 29800. meter persegi, berbentuk pelataran berlapis tegel keramik berwarna merah bata yang disusun sesuai shaff salat, berada di sisi serta belakang gedung utama. Teras ini berfungsi menampung jemaah terhadap saat salat Idul Fitri serta Idul Adha. Koridor di sekeliling teras pelataran mengaitkan bangunan utama dengan menara masjid. tak layaknya masjid dalam arsitektur Islam Arab, Persia, Turki, serta India yang mempunyai banyak menara, Istiqlal cuma mempunyai satu menara yang melambangkan Keesaan Allah. Struktur menara berlapis marmer berukuran tinggi 66,66 meter (6666. cm), melambangkan 6666. ayat dalam persepsi tradisional dalam Alquran. Ditambah kemuncak yang memahkotai menara terbuat dari kerangka baja setinggi 30 meter melambangkan 30 juz'. dalam Al Quran, tersebutkan tinggi jumlah menara ialah 96,66 meter. disamping koridor emper keliling terkandung pula koridor di tengah yang mengaitkan Gerbang Al Fattah dengan Gerbang Ar Rozzaq. bila masjid telah jelas saja berkiblat ke arah Mekkah,[32] penjuru koridor ini mengarah ke Monumen Nasional, Perihal ini buat tunjukkan jikalau masjid ini ialah masjid nasional Republik Indonesia 

Di masjid ini juga terkandung bedug raksasa yang terbuat dari dari sebatang pohon kayu meranti merah asal pulau Kalimantan yang berumur sekitar 300 tahun 

Masjid Istiqlal diketahui dengan kemegahan bangunannya. Luas bangunannya cuma mencapai 26% dari kawasan seluas 932. hektare, yang selebihnya ialah halaman serta pertamanan. terhadap taman masjid di sudut barat daya terkandung kolam besar dengan air mancur yang bisa menyemburkan air setinggi 45 meter. Air mancur ini cuma diaktifkan setiap hari Jumat menjelang salat Jumat atau terhadap hari raya serta hari serius keagamaan Islam layaknya Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, serta Isra Miraj.


SEJARAH MASJID ISTIQLAL ( Rangkuman Masjid Istiqlal)

Rangkuman lengkap sejarah masjid istiqlal :


Masjid Istiqlal adalah masjid terbesar di Asia Tenggara. Sebagai rasa syukur atas kemerdekaan yang didapati republik Indonesia masjid Istiqlaldapat kita artikan Merdeka. Ide awal pembangunan masjid ini adalah dari bapak. KH. Wahid hasyim (menteri agama tahun 1950) serta bapak Anwar Cokroaminoto. Tahun 1953 dibentuk lah pantia pembangunan masjid Istiqlal yang diketuai oleh Bapak. Anwar Cokroaminoto. Belio memberitahukan rencana pembangunan masjid terhadap Ir. Soekarno serta nyatanya menemukan sambutan hangat serta akan memperoleh pertolongan sepenuhnya dari presiden.

Ir. Soekarno dari ketika tahun 1954 oleh panitia diangkat menjadi kepala area metoda pembangunan Masdjid istiqlal, serta belio juga menjadi ketua dewan juri buat menilai syayembara maket Istiqlal. Tahun 1955 diadakan syayembara memebuat gambar serta Maket pembangunan masjid Istiqal. Diikuti oleh 30 Orang peserta serta cuma 27 orang peserta yang menyereahkan gambar. serta cuma 22 orang saja yang memenuhi persyaratan lomba. sehabis di diskusikan oleh dewa juri yang menjadi pemenang adalah 5 orang serta dari 5 orang terebut terpilih Arsitek F Silaban dengan Sandi ketuhanan.





Pada tahun 1961 diadakan penanaman tiang pancang pertama pembangunan masjid Istiqlal. 17 tahun setelah itu bangunan masjid selesai dibangun, serta penggunaannya dilaksanakan dari ketika tanggal 22 Februari 1978. Pembangunan majid ini didanai dengan APBN sejumlah 7000000000. serta 12000000. US. Luas tanah areal masjid Istoqlal adalah 93. hektar. Lokasi pembangunan gedung adalah seluas 2,5 hektar terdiri dari; gedung Induk/Utama serta balkon bertingkat lima luasnya 1 hektar, bangunan teras 1,5 hektar, Areal parkir luasnya 3,35 Hektar, Pertamaan serta air mancur seluas 3,47 hektar.


Nah itulah mengenai artikel sejarah masjid istiqlal semoga bermanfaat.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sejarah Masjid Istiqlal (Lengkap)

0 komentar: