LEARN SEJARAH. Belajar sejarah dan manfaat sejarah adalah membangkitkan semangat kesatuan.

Agresi Militer Belanda I dan II

Agresi Militer Belanda I


Agresi Militer Belanda I dilatar-belakangi oleh perbedaan pendapat pasca perundingan Linggarjati yang kemudian menyulut konflik antara Indonesia dan Belanda. Tanggal 27 Mei 1974, pihak Belanda mengeluarkan ultimatum yang wajib dijawab oleh pemerintah Indonesia dalam kurun waktu 14 hari. Karena tidak ada respon dari Indonesia, pada tanggal 21 Juli 1947, tentara Belanda melakukan serangan pada tengah malam di hampir seluruh wilayah Indonesia. Serangan ini kemudian dikenal dengan nama Agresi Militer Belanda I. Selama Agresi Militer pertama ini berlangsung, tentara Belanda berhasil menduduki Bandung dan Jakarta dengan tujuan untuk menguasai wilayah Jawa Barat. Mereka juga menduduki Surabaya untuk dapat menguasai Jawa Timur dan Madura. Dan, tentara Belanda juga berupaya untuk menguasai Semarang. Kekuatan tentara Belanda yang besar kemudian berhasil memukul mundur tentara Indonesia. Tentara Indonesia pun tersingkir ke daerah-daerah pedalaman namun tetap melancarkan gerilya dan taktik bumi hangus. Hebatnya lagi, meski sedang tersudut, tentara Indonesia menggunakan sistem wehkreise sebagai pengganti sistem pertahanan liner.


Dengan menerapkan sistem tersebut, tentara Belanda hanya bisa bergerak di kawasan kota-kota besar dan jalan raya saja, sedang wilayah-wilayah lainnya secara penuh dikuasai oleh tentara Indonesia. Tentara angkatan darat Indonesia dengan menggunakan pesawat tempur bekas tentara Jepang mulai melakukan penyerangan ke beberapa titik militer Belanda. Pesawat tempur yang diterbangkan dari Maguwo, Yogyakarta, misalnya, berperan aktif dalam penyerangan tentara-tentara Belanda di  Semarang dan Ambarawa.

Agresi Militer Belanda II

Belanda melihat adanya peluang untuk menguasai kembali NKRI ketika Indonesia sedang sibuk mengatasi konflik intern, tepatnya konflik antara Pemerintah Indonesia dan PKI. Tanggal 8 Desember 1948 malam, Dr. Beel menyampaikan bahwa pihaknya (Belanda) tidak mengakui isi Perjanjian Renville kepada perwakilan KTN dan RI. Kemudian, keesokan harinya, tentara Belanda melakukan penyerangan ke wilayah Indonesia untuk yang kedua kalinya (serangan sebelumnya adalah Agresi Militer Belanda I). Kali ini yang menjadi target Belanda adalah ibu kota Indonesia yang saat itu dipindahkan ke Yogyakarta. Dengan mengaplikasikan siasat perang kilat, tentara Belanda juga menyerang wilayah-wilayah lainnya. Serangan dengan target Kota Yogyakarta diawali dengan dikirimkanya pasukan-pasukan terjun payung Belanda di Pangkalan Udara Maguwo yang sekarang menjadi Bandara Internasional Adisucipto serta pengeboman di beberapa titik di Yogyakarta. Hanya dalam waktu singkat, Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda. Para pejabat tinggi dan pemimpin negara Indonesia ditahan oleh Belanda. Presiden Soekarno diasingkan ke Daerah Parapat, Sumatera Utara, lalu dipindahkan ke Bangka. Sementara itu, wakil presiden RI, Bung Hatta, diasingkan ke Daerah Bangka. Ketika Belanda sedang melakukan penyerangan, kabinet sempat melakukan sidang darurat di Istana Presiden (19 Desember 1949) dan hasil sidang memutuskan bahwa Mr. Syarifudin Prawiranegara yang saat itu sedang berada di Bukittinggi. Kabinet meminta Syarifudin untuk membentuk pemerintahan sementara dengan nama Pemerintahan Darurat RI yang disingkat PDRI.

TNI tetap melancarkan serangan di bawah komando pimpinan Jenderal Soedirman. Ketika sedang terjadi kontak senjata sengit, beliau meninggalkan Kota Yogyakarta guna memimpin perang di kota-kota luar Yogyakarta. Beliau menempuh perjalanan sekitar 1000 km selama 8 bulan dengan lokasi-lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meski sedang sakit parah, beliau tetap memimpin gerilya dari dalam tandu. Tak jarang beliau digendong oleh salah satu anak buahnya ketika sedang bergerilya. Beliau baru kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

A.H. Nasution, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa, menyusun Perintah Siasat No.1 yang salah satu isinya adalah pasukan-pasukan yang berasal dari daerah federal memiliki tugas utama untuk menyusup dari belakang dan membentuk kantong gerilya dengan tujuan agar seluruh wilayah Pulau Jawa menjadi medan gerilya.

Berakhirnya Agresi Militer Belanda II


Selama 1 bulan, TNI berhasil memberikan perlawanan terhadap musuh. Sumatera dan Jawa menjadi satu area gerilya yang menyeluruh. TNI terus memberikan tekanan kepada Belanda. Salah satunya yaitu dengan memboikot perbekalan-perbekalan yang akan disalurkan untuk tentara Belanda. Satu per satu kota yang ada di bawah kekuasaan tentara Belanda diambil-alih. Sebut saja Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta di bawah pimpinan Soeharto. Bantuan demi bantuan pun diperoleh dari beberapa negara yang senasib dengan Indonesia (India dan Myanmar). Terlebih Sri Sultan Hamengku Bowono IX menolak mentah-mentah kerjasama yang ditawarkan oleh Belanda. PBB juga memberikan dukungan dengan mengeluarkan sebuah resolusi yang berisi bahwa Indonesia dan Belanda harus menghentikan permusuhan. Tekanan tidak datang dari negara-negara yang kontra dengan Belanda, melainkan juga dari negara Amerika yang tak lain adalah sekutu Belanda. Amerika mengancam akan menghentikan bantuan ekonomi dan finansial untuk Belanda. Situasi inilah yang kemudian membuat Belanda tak lagi menduduki Indonesia.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Agresi Militer Belanda I dan II

0 komentar: